KESEJAHTERAAN HIDUP
Keluarga Makmur hidup rukun dan bahagia. Ia punya seorang anak manis yang diberi nama Sejahterawati. Sekalipun hanya makan tahu tempe, tak pernah Makmur uring-uringan. Begitu pula istri dan anaknya, hidup bahagia sekalipun sangat sederhana. Bahkan seringkali kehidupan keluarga Makmur membuat iri tetangga. Kok hidup dengan sederhana tetapi tidak mengurangi keharmonisan rumah tangga ya ? Rumah masih ngontrak kenapa bisa rukun dan tidak tidak pernah terdengar ribut ya ?
“Kebahagiaan itu tidak terletak pada uang dan harta, tapi ada dalam hati kita,” jelas Makmur ketika suatu hari dikerubuti ibu-ibu yang sengaja datang meminta tips bagaimana agar bisa hidup bahagia, tentram, aman dan terkendali.
“Apa hati bisa tenteram sementara dapur belum ngebul ?” tanya seorang ibu yang terkenal senang ngutang hanya agar kelihatan seperti orang banyak uang.
“Bagi saya makan itu bukan tujuan hidup, Bu, tapi makan hanya untuk penyambung hidup,” jawab Makmur mengemukakan konsep hidupnya yang sederhana.
Mendengar jawaban Makmur seperti itu, ibu-ibu hanya saling pandang. Tetap bagi pikiran mereka, pola pikir Makmur seperti itu tak bisa diterima. Bagi mereka kebahagiaan justru terletak pada kekayaan. Uang. Soalnya mana mungkin bisa memenuhi keinginan tanpa punya uang. Pertemuan itu bubar tanpa menghasilkan kesimpulan apa-apa. Ibu-ibu itu kembali ke rumah tetap dengan pola pikir dan pola hidup semula.
Suatu hari Makmur kena PHK dengan alasan perusahaan sedang mengadakan effisiensi. Tentu saja Makmur kaget, padahal dialah tulang punggung keluarga. Ketika istrinya mengetahui Makmur di-PHK, ia hanya menunduk sedih. Tak terbayang bagaimana memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sekolah dan tentu saja uang untuk kontrak rumah. Rumah tangga yang harmonis itu nyaris limbung.
Suatu hari Makmur pamit untuk cari kerjaan. Tapi sore harinya tidak pulang, bahkan keesokan harinya pun belum juga pulang. Tentu saja istri dan anaknya sangat mengkhawatirkannya, apalagi sebelumnya Makmur tak pernah pergi jauh-jauh. Sehari berlalu, dua hari, bahkan genap tiga hari Makmur belum juga pulang. Cerita miring mulai terdengar. Ada yang mengatakan Makmur punya istri lagi. Ada pula yang menyebutkan kalau Makmur tersesat dan jadi korban pengeroyokan. Istri dan anaknya hanya bisa pasrah sambil tetap berdo’a, semoga Makmur selamat dan cepat kembali.
Sepuluh hari sejak kepergiannya, akhirnya Makmur pulang. Badannya kuyu, pakaiannya kotor dan wajahnya sangat lelah. Istri dan anaknya menyambut dengan suka cita. Tak ada kebahagiaan bagi mereka selain berkumpul kembali. Sang istri sudah tidak sabar lagi mendengar cerita Makmur yang tidak pulang sampai sepuluh hari. Sebuah rekor yang luar biasa. Pada malam harinya Makmur mulai cerita. Ternyata ia pergi ke sebuah tempat keramat, meminta berkah. Menurut leluhur di tempat keramat itu bahwa Makmur cocok berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Makmur diberi sebentuk batu ali. Tapi ada satu hal yang tak boleh dilanggar yaitu tidak boleh tergoda wanita apalagi kalau sampai dikawin. Padahal menurut sesepuh di sana, setelah memiliki batu ali ini dorongan untuk punya istri lagi sangat besar. Mendengar itu, sang istri kebingungan. Bukan bingung karena suaminya takut kawin lagi, tapi bingung darimana harus menyediakan modal. Untuk dagang, tentu butuh modal yang tidak kecil.
Setelah menemui kesepakatan bersama, akhirnya kalung simpanan yang ditabung bertahun-tahun lamanya harus dijual. Dan dua pertiga-nya dipakai modal, sementara yang sepertiga dibelikan beras, untuk kebutuhan makan sehari-hari. Makmur menetapkan hati untuk jualan Bubur Kacang. Tempat usahanya dipilih di simpang jalan dekat sebuah pabrik dan pasar. Tempat yang cukup strategis.
Hari pertama, dagangannya laris manis. Betapa senangnya hati mereka. Hari ke hari bahkan dalam waktu sangat singkat, Makmur sudah bisa membeli gerobak. Kehidupannya pun mulai tampak berubah.
Setahun kemudian, Makmur benar-benar berubah. Dagangannya semakin maju. Ia kini telah mampu membeli sebuah rumah dan tanah, bahkan sepeda motor bekas. Ia berhasil membeli sebuah toko di dekat terminal. Tokonya itu berukuran tiga kali empat, tapi cukup strategis untuk jualan.
Dibalik keberhasilan usahanya, tampak ada perubahan pada Makmur. Dulu ketika hidup sederhana, ia selalu tersenyum pada siapa saja. Kepada anak dan istri sangat sayang dan sehari-harinya selalu bercanda. Tapi sekarang, semua itu telah berubah. Ia tampak sombong, tak pernah mau tersenyum pada tetangga, dengan anak dan istripun jarang bercanda lagi. Sehari-harinya ia hanya memikirkan dagangan dan dagangan. Setiap malam seluruh waktunya dipakai untuk memikirkan jualan dan uang hasil dagangnya.
“Kalau terus-terus begini saya tidak kuat, Kang ! Masak sih akang cuma memikirkan dagang dan uang. Mana perhatian untuk keluarga ?” protes istrinya pada suatu malam. Mendengar keluhan istrinya seperti itu, Makmur marah besar.
“Kamu tahu, semua ini karena saya memikirkan kalian supaya tidak hidup menderita lagi. Bukannya berterima kasih, malah minta macam-macam,” bentak Makmur dengan nada tinggi.
“Yang kami butuhkan perhatian, bukan hanya tercukupi uang dan makan,” protes istrinya lagi.
Makmur terus uring-uringan. Semalaman ia tak tidur. Keesokan harinya ia dagang seperti biasa. Tapi sore harinya ia tidak pulang. Sehari, dua hari, bahkan selama seminggu tidak pulang ke rumah. Setiap ditengok ke tempat dagangnya, selalu tak bisa ditemui. Di toko itu hanya ada dua pembantunya.
Genap sepuluh hari setelah kepergian Makmur, tersiar kabar ternyata Makmur kawin lagi. Katanya ia kawin dengan seorang janda kembang, yang sama-sama jualan di terminal. Betapa sakitnya hati istri Makmur. Hari itu juga ia pulang kembali ke orang tuanya, meninggalkan rumah dan segala isinya. Bersama anaknya ia hidup di rumah orang tuanya.
“Apa akang tidak ingat, punya istri lagi itu pantangan dari sepuh ?” suatu hari isteri tuanya masih sempet mengingatkan. Tapi rupanya Makmur benar-benar lupa diri. Ia tidak mau mendengar apa yang diucapkan isteri pertamanya, yang terbayang bagaimana kehangatan sang isteri muda, yang menurut pengakuan Makmur selalu bisa menyenangkan suami.
Tidak kuat dimadu akhirnya istri pertama Makmur minta cerai. Makmur malah senang. Sekarang ia hidup bahagia bersama istri mudanya. Dua bulan sejak perceraian itu, rumah beserta istrinya dijual. Anehnya tak sedikitpun diberikan kepada istri tuanya. Semua diserahkan pada istri muda. Makmur giat kembali bekerja, dan sering meninggalkan isteri mudanya di rumah.
Makmur tidak menyadari kalau sikap dan watak dari istri mudanya ini berbeda dengan istri pertamanya. Tapi dasar sudah terbius rayuan istri muda, Makmur lupa segalanya. Makmur juga sudah lupa akan larangan sesepuh di tempat keramat itu. Sekarang bukan saja tergoda tapi benar-benar telah kawin. Bahkan isteri tua yang selama ini menemani suka dan duka, justru rela diceraikan.
Suatu hari ada kejadian menggemparkan. Isteri muda Makmur kedapatan main serong dengan seorang supir. Betapa terpukulnya Makmur. Saat itu juga istri mudanya dicerai. Kini, Makmur hidup sendiri mengelola toko. Tapi entah kenapa belakangan ini Makmur kurang konsentrasi dalam dagangnya. Tidak aneh kalau kemudian semakin hari penghasilan semakin menurun. Beberapa persediaan baik uang maupun perhiasan, sedikit demi sedikit sudah mulai dijualnya.
Ternyata penderitaan Makmur belum juga berakhir. Suatu hari Makmur sakit-sakitan. Berbulan-bulan ia dirawat di rumah sakit. Ada yang bilang kena guna-guna istri mudanya. Tapi menurut dokter Makmur mengidap penyakit lever. Semua uang dari hasil berdagangnya, habis terkuras untuk biaya pengobatan.
Setahun kemudian ia sembuh. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan kehidupannya lebih sulit dari sebelumnya. Dan sekarang hidup sendiri di rumah kontrakannya. Istri mudanya telah meninggalkannya dengan segudang hutang. Ia tak pernah nyangka, perubahan kekayaan itu akan berakhir pada titik nol. Ia hidup sengsara tanpa rumah, tanpa anak dan isteri. Kalau begini akhirnya, dulu ia tak bercita-cita ingin kaya, hanya itu yang sering ia gumamkan.
***
dr.Mohammad Ali Toha Assegaf : KONSISTEN DAN MEMEGANG TEGUH MEMPRODUKSI PRODUK ALAMI
Perkembangan ilmu kedokteran akhir-akhir ini telah sedemikian pesatnya, akan tetapi perkembangan tersebut diikuti pula dengan peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan, perubahan perangai kuman-kuman, munculnya penyakit-penyakit baru yang tidak mudah diatasi. Keadaan ini makin hari makin merepotkan. Sementara ilmu kedokteran belum bisa menjawab satu permasalah, persoalan lain muncul lagi. Makin terasa oleh kita bahwa problema kesehatan masyarakat tidak lagi bisa diselesaikan dengan satu cara pendekatan saja, karena keadaan yang demikian itulah maka sebagian dari kita mulai mengalihkan pemelirahaan kesehatannya dengan menggunakan metoda lain, dimana-mana orang gandrung dengan slogan back to nature. Kegandrungan pada sesuatu yang alami ini diikuti dengan bermunculannya obat-obat alami. Namun kondisi yang positif yang terjadi di masyarakat dengan mulai melirik obat-obat alami ini, belakangan terasa dikhianati ketika sejumlah produsen obat mencampurkan BKO (bahan kimia obat) diantaranya sildenafil sitrat dan tadalafil, yang menyebabkan Badan POM pertengahan Nopember 2008 ini menarik 22 produk yang nyata-nyata mengandung kedua bahan berbahaya yang dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, dispepsia–salah satu gangguan pada saluran pencernaan, khususnya lambung–mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, radang hidung, infark miokard, nyeri dada, jantung berdebar, dan kematian. Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, pusing, sakit kepala, mual, diare, nyeri abdomen, dispepsia, nyeri punggung, muka merah, hidung tersumbat, fotosensitivitas, serta kehilangan potensi seks permanen. Saya benar-benar prihatin dengan penarikan 22 produk yang mengandung Bahan Kimia Obat tersebut. Keprihatian pertama, penarikan tersebut jelas-jelas akan mengandung efek domino terhadap produk-produk yang benar-benar alami. Keprihatian kedua, secara langsung maupun tidak langsung, memberi efek psikologis berupa rasa waswas terhadap masyarakat yang mulai beralih dengan kesadaran penuh pada hal-hal yang alami termasuk di dalamnya dalam mengkonsumsi obat. Padahal dengan benar-benar menjaga bahan-bahan alami, memproses secara benar, produk obat alami akan memberi manfaat yang sudah jelas-jelas nyata tanpa harus mencampurkan bahan-bahan berbahaya.
Di tengah keprihatinan ini, saya menghimbau kepada para produsen dan praktisi obat-obat alami, marilah kita senantiasa konsisten dan memeguh teguh misi kita untuk membantu masyarakat mengkonsumsi obat-obat alami dengan tidak tergiur untuk mencampurkan bahan kimia obat hanya semata-mata pertimbangan pemasaran agar efek obatnya langsung terasa dengan mengabaikan keselamatan konsumen. Saya sebagai penemu dan produsen ramuan PROPOTEN, akan tetap konsisten dan memegang teguh, bahwa dalam setiap memproduksi PROPOTEN, benar-benar dari bahan alami, diproses secara modern, tanpa harus mencampurkan bahan-bahan kimia obat. Dengan konsistensi ini saya yakin PROPOTEN akan tetap memberi manfaat yang tidak kalah dengan obat-obat yang dicampur bahan kimia obat, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya yang berhasil mengatasi problem kesehatan terutama masalah-masalah pria tanpa efek samping negatif baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Konsistensi ini juga sebagian bagian dari tanggung jawab kami terhadap surat ijin yang telah kami kantongi baik dari Badan POM maupun dari LP POM MUI untuk sertifikat halal.
INFO/PESAN PRODUK : SMS KE 081310860817/081381641642

Propoten
Napas Daerah Berembus Ke Pusat
Napas Daerah Berembus ke Pusat
by : Theresia Purbandini
Jakarta sebagai ibu kota dengan segala hingar bingar kehidupannya, berlangsung serba cepat dan praktis dalam segala hal. Hingga akhir tahun 1990-an, era internet mulai menyambangi dan menyekat kesusastraan yang ada pada media koran ataupun majalah. Adanya internet, dianggap oleh Jonathan Rahardjo, penulis novel Lanang, justru mempersempit kesenjangan antara sastra daerah dengan sastra di Jakarta.
Namun, tak dapat dipungkiri, kegiatan penunjang kemajuan sastra di Jakarta jauh lebih banyak dan menjamur dibanding kegiatan di daerah. Jakarta ibarat etalase bagi begitu banyaknya kegiatan di segala bidang kehidupan kesenian, termasuk bidang sastra.
Sementara, bagi novelis Naning Pranoto, hampir semua pengarang Indonesia yang telah menulis karya-karyanya adalah kaum urban. Yakni orang-orang yang meninggalkan tempat kelahiran (daerah) menjadi imigran masuk ke kota-kota besar terutama Jakarta.
Ketika mereka berkarya mengambil setting Jakarta – misalnya, karena mereka telah menetap di Jakarta sebagai penduduk. Semisal Pramoedya Ananta Toer yang menulis Cerita Dari Blora, Romo Mangun menulis Burung-Burung Manyar dan Mochtar Lubis menulis Senja Di Jakarta serta STA menulis Layar Terkembang dan Dian Tak Kunjung Padam.
Bukan kesadaran sosiologis
Pada umumnya, menurut Naning, mereka menulis tidak dengan berdasarkan kesadaran sosiologis. “Jadi, sama sekali tidak ada maksud untuk mempertentangkan antara Jakarta (pusat) vs Daerah yang telah mereka tinggalkan. Kalau kemudian ada pengarang yang mengangkat warna lokal, itu hanya dikarenakan gerakan yang dipicu nostalgia,” ungkap penulis novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi ini.
Bagi Jonathan Rahardjo, kegiatan sastra tidaklah identik dengan keramaian. Namun, kegiatan sastra sangat dekat dengan sunyi dan kesendirian. “Hal ini lebih banyak dimiliki sastrawan di daerah yang berkarya di ruang sunyi. Namun ruang sunyi sendiri dalam konteks berkarya bagi setiap orang adalah berbeda-beda. Arswendo Atmowiloto justru sangat produktif di keramaian, sementara di sebagian banyak orang mereka lebih produktif dalam kesunyian,“ katanya.
Maka dalam konteks ini, hiruk pikuk bagi Arswendo adalah sunyi. Arswendo sendiri sekarang tinggal di Jakarta, sehingga ia lebih dikenal sebagai sastrawan Jakarta. Dengan konteks kemajuan berkarya sastra antara daerah dan Jakarta, maka menurut Jonathan soal kreativitas sejatinya tidak memandang lokasi, daerah atau Jakarta namun tergantung pribadi sastrawan masing-masing.
“Ada semacam memori, rasa kangen, kristalisasi pengalaman, yang semua dapat dengan deras ditumpahkan menjadi sebuah karya bila ia mengambil jarak dari kisah yang dituliskan. Tak mengherankan bila karya Korie Layun Rampan, Upacara yang mengisahkan kehidupan tradisi di Kalimantan malah ditulisnya di Jakarta sebagai orang urban. Bahkan karya Umar Kayam, Para Priyayi seingat saya juga ditulis ketika ia berada di luar negeri. Dalam konteks Jakarta vs Daerah, sulit memisahkan karya-karya tentang daerah ditulis orang daerah di daerahnya sendiri, sementara ia sudah menjadi orang Jakarta yang ternyata baru bisa menulis tentang Jakarta mungkin setelah dipisahkan waktu dan tempat,“ ungkap Jonathan, pemenang sayembara novel DKJ 2006 ini.
Tema pusat dan daerah muncul sejak Angkatan Pujangga Baru, dinilai oleh Naning, bahkan di luar negeri, tema seperti itu nyaris tidak bergema. Keadaan geografis, politik, kultural, Indonesia tidaklah sama dengan negara-negara lain misalnya seperti AS, Prancis, Jerman, Inggris dll. “Di AS tidak seperti di Indonesia, ada pusat dan daerah, dikarenakan sistem pemerintahan AS berbentuk federal, sehingga adanya negara-negara bagian (bukan pusat dan daerah),” katanya menambahkan.
Pergerakan peradaban
Sementara bagi Jonathan, karena sastra berpotensi strategis dalam menunjukkan pergerakan peradaban suatu lokasi, daerah misalnya, maka ada keterkaitan yang tak terpisahkan antara kehidupan di daerah dan di Jakarta dalam banyak novel Indonesia. Tema Jakarta dan tema daerah itu, muncul dalam kisah si tokoh cerita yang melibatkan mobilitas sosialnya.
Semacam novel Belantara Ibukota karya Umar Nur Zain, menceritakan tentang anak daerah yang ke Jakarta dan berubah gaya hidupnya di Jakarta dengan segala macam kepelikan hidup. Novel Toenggoel karya Eer Asura (nama pena Enang Rokajat Asura) mengisahkan kehidupan warok di Madiun dan gemblak yang kemudian tinggal Bandung. Novel ini kemudian di-republished oleh Edelweiss publishing (Mizan Grup) dengan judul “Gemblak : Tragedi Cinta Budak Homoseks” (tambahan dari penyunting). Novel Ronggeng Dukuh Paruk menyuarakan kehidupan Ronggeng Srintil di Jawa Tengah.
Novel Para Priyayi karya Umar Kayam menyuarakan kehidupan priyayi di Jawa yang tak lepas kisahnya dengan anak-anaknya yang kemudian tinggal di kota besar seperti Jakarta. Novel-novel Oka Rusmini menyuarakan perlawanan gender perempuan dan penindasan struktur sosial di Bali. Novel Hubbu tentang pencarian identitas sosial di dunia pesantren di daerah tapal kuda Jawa Timur dan Surabaya.
Sedangkan Naning berpendapat, masyarakat pembaca bisa mengetahui perbandingan situasi sosiologis ekonomi, politik, budaya antara pusat dan daerah dari novel-novel, tapi juga dapat tergelincir ke dalam informasi-informasi yang kurang valid apabila para pengarang tidak menulis berdasarkan fakta-fakta yang sebenarnya. Karena menurut Naning, yang juga rajin mengadakan berbagai workshop penulisan kreatif ini, pada umumnya pengarang Indonesia adalah orang-orang yang bekerja (do writing) berdasarkan intuisi, imajinasi, ilusi. Tidak berdasarkan observasi apalagi penelitian yang detail dan akurat.
“Tidak perlu menempatkan batas paradigma antar Jakarta Vs Daerah. Karena selalu ada perbedaan antara pusat dan daerah. Apa yang disebut kota pada dasarnya tidak lebih dari desa yang sudah mulai mengalami proses industrialisasi, kapitalisasi dengan segala risiko dan konsekuensinya. Harap diingat, ada pepatah yang mengatakan: Jakarta is the big village,” tutup Naning.**
ANTIBIOTIK ALAMI
Sambiloto adalah tanaman berupadaun yang berkhasiat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Bersifat seperti antibiotik tetapi berasal dari tumbuhan.
Berkhasiat untuk :
•Meningkatkan kekebalan tubuh karena memiliki efek antibiotik alami dan antiparasitik alami untuk melawan infeksi seperti radang tenggorokan, influenza, dan keputihan
•Menurunkan kadar gula darah penderita diabetes
•Membersihkan darah
•Mengatasi penyakit kulit dan gatal-gatal
•Membantu menurunkan demam
•Dan lain-lain
INFO HARGA/PESAN : 081310860817
Anak Seribu Pulau
ANAK SERIBU PULAU
Cerita Pendek : Enang Rokajat Asura
Rumah panggung yang dikelilingi kebun itu, selalu membuatku damai. Aku sering duduk berlama-lama di balai, sekedar mengedarkan pandangan. Rumah itu selalu menyebarkan wangi kayu jati, semerbak mawar dan gemericik air yang senantiasa melambungkan angan-anganku. Angan-angan yang sangat abstrak sesungguhnya, karena tidak pernah aku merasa puas dari apa yang diangankan itu. Sepulang sekolah dulu, sering tak langsung pulang ke rumah melainkan mampir ke rumah itu. Ada saja alasan kenapa aku memerlukan mampir ke sana. Ibu Maesaroh dan pak Guru Mastur pemilik rumah itu, tak pernah melarangnya. Tapi hari ini aku tak mencium wangi kayu jati, selain aroma dukacita.
Aku duduk di balai-balai. Satu demi satu datang pria seusiaku dan dua orang tampaknya sedikit di bawah. Ada tujuh orang denganku yang kini duduk di balai-balai. Kami tak saling bicara. Bukan karena satu sama lain masih asing, tapi sepertinya kami sepakat saat itu tak perlu untuk bicara. Kupikir semua yang mengantarkan bapak ke pemakaman tadi adalah penduduk sini, karena bapak tak punya anak selain aku sebagai anak angkatnya. Juga bapak tak punya saudara, karena seluruh adik-adiknya telah mendahului meninggal dunia sebelum mereka berumah tangga. Tapi enam lelaki ini tentu bukan tetangga dekat. Aku pikir mereka adalah saudara jauh dari ibu.
Kami tetap tidak saling bicara. Mungkin kami sedang sama-sama berpikir, sebagai seorang yang asing satu sama lain, tidak merasa perlu untuk bicara dan saling mendengar. Saat kami duduk dan saling berdiam diri, emak berdiri di ambang pintu dan memberi isyarat menyuruhku masuk. Bu Mae mau bicara dengan kau, bisik emak. Aku mengangguk dan masuk ke kamar. Di sana aku menemukan bu Maesaroh duduk di atas ranjang dan wajahnya tetap tenang. Sebelah tangannya memegang tasbih, dan sebelah tangan yang lain memegang kitab kecil. Ketika aku masuk, ibu mengangguk, lalu menyimpan kitab di sebelahnya.
“Duduklah ! Kukira kamu tidak datang !”
“Saya terlambat, tapi masih sempat ikut berdo’a di makam tadi, Bu.”
“Syukurlah !”
Ibu menengadahkan kedua tangannya, berdo’a, lalu mengusap wajahnya yang teduh. Aku duduk di atas karpet yang digelar di kamar itu.
“Ada enam anak muda yang mengaku anak bapak. Mereka datang tadi pagi. Bagaimana ini ? Kok aku sendiri tidak pernah tahu. Barangkali kamu pernah dengar bapak bicara tentang istri-istri yang lain ?” kata ibu dengan suara tetap datar. Tak tersirat emosi. Aku sendiri heran, kenapa ibu bisa setenang itu. Padahal paling tidak ada dua hal yang semestinya menggoncang jiwanya, yaitu kematian bapak yang mendadak dan kehadiran enam lelaki asing itu. Aku kembali memikirkan tentang enam lelaki yang duduk-duduk di depan. Enam lelaki yang sama-sama tidak saling bicara. Pasti mereka yang ibu maksud. Soal tidak saling bicara bagiku tak jadi masalah, tapi bagaimana dengan pengakuan mereka itu ?
“Terakhir ketemu bapak lebaran kemarin, Bu, dan saat itu bapak tidak bicara tentang istri-istri yang lain. Mendengar bapak punya istri lain saja, baru sekarang dari ibu.” kataku sejujurnya karena memang tak pernah tahu bahwa bapak punya istri selain ibu. Aku masih ingat saat bapak bicara tentang ibu yang menyuruhnya nikah lagi hanya karena lama tak punya anak. Saat itu bapak cuma bicara, ibumu itu, Nang, memang keterlaluan. Masak bapak disuruh nikah lagi, hanya karena tak dikaruniai anak. Aku yakin bapak bicara sungguh-sungguh.
“Lalu anak dari siapa enam lelaki itu tadi ?”
“Mereka tidak bicara anak dari siapa, Bu ?”
“Itulah yang membuat aku mikir macam-macam, Nang. Selama ini aku tidak pernah semalampun kehilangan bapak, kecuali pada siang hari saat ngajar atau pergi ke kebun setelah,” Ibu menunduk seperti menyembunyikan sesuatu. Lalu aku melihat jari-jemarinya kembali meniti butir-butir biji tasbih. Bibirnya bergerak pelan. Mungkin melanjutkan wirid disela-sela bicara denganku. Kegemaran ibu dari dulu memang begitu, selalu wirid dimana dan kapanpun juga. Bahkan ketika kami sama-sama sedang bicara, tak pernah berhenti dari wirid. Kegemaran inilah, aku yakin, membuat ibu selalu tenang.
“Di sini saja duduknya, Hamsah, tokh kami tidak sedang bicara rahasia.” Ibu mendongak ke luar, mengajak emak untuk duduk di dalam kamar. Kulirik emak cuma mengangguk.
“Tidak usah, di sini juga sudah cukup, Ceuk !” bilang emak kemudian.
“Bagaimana kalau saya yang bicara pada mereka !” kataku akhirnya setelah ibu diam.
“Maksud kamu bagaimana ?”
“Ya, akan saya tanya kenapa mereka mengaku sebagai anak-anak almarhum bapak. Kalau memang benar …”
“Kalau benar bapakmu punya istri lagi, artinya ia telah mengkhianati aku, Nang. Kenapa dulu ketika aku suruh nikah lagi, ia menyuruhku istigfar. Tapi sudahlah, aku tak mau mikirin yang tidak pasti. Usul kamu juga baik. Tapi baik-baiklah kau bicara. Jangan emosi. Kalau benar mereka itu anak-anak bapak, artinya kan saudaramu juga.”
Aku mengangguk dan beringsut meninggalkan ibu. Luar biasa perempuan ini. Ditinggal suami bisa setenang itu. Setenang air telaga. Di atas balai-balai keenam lelaki yang mengaku anak-anak bapak itu, mulai terlibat obrolan. Ketika aku duduk kembali di antara mereka, seorang diantaranya meminta pendapat tentang apa yang sedang mereka obrolkan.
***
Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam, nama keenam lelaki itu. Semuanya datang dari jauh. Aku sendiri yang memperkenalkan diri. Tapi anehnya mereka bicara seragam, setelah menyebut nama sendiri kemudian diikuti dengan kata-kata “anak bapak dari jauh”. Dari kang Hamid kutahu, ternyata mereka semua adalah anak-anak angkat bapak. Mereka dibiayai ketika sekolah, dilanjutkan ke SPG, dan sekarang semuanya jadi guru. Sekarang semuanya punya anak asuh, disamping mengurus anak sendiri. Persis sama seperti cerita hidupku sendiri. Terjawab sudah rasa penasaranku itu. Aku ingin segera memberitahu ibu, agar tidak terlalu lama menunggu dalam ketidakpastian.
Dulu ketika aku kelas empat SD, bapak adalah guru kelasku. Dalam seminggu aku selalu tidak masuk sekolah dua atau tiga hari. Bukan karena malas, tapi karena aku harus membantu emak mengantarkan sekarung kecil daun singkong muda ke pasar Dangdeur. Daun-daun singkong itu emak yang mengambilnya dari kebun sore hari. Kemudian dipilih yang benar-benar muda, lalu diikat masing-masing sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Untuk satu ikat kami menerima uang sepuluh perak. Dalam satu karung besar itu paling banyak berisi tigapuluh ikat, total uang yang bisa aku bawa pulang sebanyak tiga ratus perak. Sementara jarak dari rumah ke pasar sangat jauh apalagi harus ditempuh dengan jalan kaki seorang anak kecil sepertiku. Kalau aku pergi jam lima subuh, baru datang ke pasar jam tujuh, istirahat sebentar, setengah delapan aku pulang dan sampai di rumah jam sepuluh. Jelas aku tak bisa masuk sekolah.
Ketika diceritakan pada pak Mastur kenapa dalam seminggu aku selalu bolos sekolah, ia hanya manggut-manggut. Samasekali tidak marah. Suatu hari sepulang sekolah, aku dipanggil ke ruang guru. Aku berpikir pasti akan kena hukuman. Tapi ternyata tidak. Di ruang guru pak Mastur telah menunggu. Ketika aku berdiri di pintu dan mengucapkan salam, ia memberi isyarat agar aku masuk dan duduk di kursi jati depan mejanya. Aku selalu gugup ada di ruangan itu. Ruangan itu terasa angker, seperti ketika aku lewat kuburan saja. Ada beberapa meja di sana, di sudut ruangan ada gulungan atlas besar, alat-alat olahraga dan tengkorak buatan. Memandang yang terakhir itu membuatku selalu gemetaran.
“Kamu nggak usah gugup, bapak tidak akan menghukum. Begini, Nang, bilang pada ibumu, mulai sekarang kamu tidak perlu bayar SPP, tidak perlu beli buku dan pensil, juga setiap awal tahun ajaran tak perlu beli seragam. Semua itu bapak yang akan menyediakan.”
Aku hanya melongo heran, seperti dalam mimpi. Apakah ada malaikat yang mengirim uang pada bapak sehingga begitu gampang mau menanggung segala kebutuhan sekolahku ? Aku tak bisa mengikuti jalan pikiran pak Mastur saat itu. Demikian pula saat aku ceritakan pada emak, beliau hanya menangis. Pasti emak akan bilang, kalau masih ada bapak semua itu tak akan terjadi. Dulu pernah berpikir, jangan-jangan pak Mastur akan berbuat seperti juru tulis Desa terhadap ceu Imas, ibunya Didin yang juga ditinggalkan suaminya. Katanya, pak Ulis sering memberi ini-itu pada Didin, lalu suatu hari kedapatan tidur bersama ceu Imas. Aku bergidik mengingat itu. Emak pasti tidak akan seperti ceu Imas. Aku juga berharap, kebaikan pak Mastur bukan seperti kebaikan juru tulis. Semalaman aku terus memikirkan masalah itu. Tapi tetap saja tidak menemukan jawaban yang pasti, kenapa pak Mastur mau membiayai sekolahku. Hanya saja suatu pagi, saat aku siap-siap akan mengantarkan sekarung daun singkong, emak melarangnya. Tugas kamu sekarang sekolah, biar emak saja yang ke pasar. Sejak saat itu aku tak pernah bolos sekolah lagi, sekalipun sebenarnya aku kehilangan kegembiraan yang lain yaitu saat menerima upah dari bandar untuk sekarung daun singkong itu.
Pak Mastur membiayai sekolahku tidak hanya di sekolah dasar, tapi juga di SMP dan SPG. Aku ingat benar kenapa masuk SPG. Selepas SMP saat itu, aku masuk ranking tiga besar di SMP Negeri Cicalengka. Bapak bilang begini:
“Lebih baik kamu lanjutkan ke SPG, supaya kamu jadi guru. Nanti kalau kamu ngajar, dimanapun, temukan anak-anak seperti kamu. Sisihkan sebagian penghasilan kamu untuk mereka.”
Ya, aku memang sekarang jadi guru. Aku juga telah menemukan anak-anak sepertiku untuk dibiayai sekolahnya. Satu anak di SMA, dua anak di SMP, dan satu anak di kelas lima SD, selain membiayai dua putra-putri kami sendiri. Aku juga istriku awalnya sering khawatir, jangan-jangan tak akan cukup dengan hanya mengandalkan gaji yang tidak seberapa itu. Tapi sampai hari ini justru selalu bersisa. Sekarang aku baru sadar, kekayaan pak Mastur itu memang bukan langsung menerima dari malaikat tapi ia telah membuat jalan ke sana.
“Cerita akang, sama persis dengan saya. Hanya saya mulai dibiayai bapak ketika kelas dua SMP. Saat itu bapak mancing di kampung dan ketemu saya tidak sekolah. Bapak bertanya kenapa saya tidak sekolah.” Kustiana yang cerita. Kami mengangguk dan merasakan bagaimana sebuah skenario telah bapak rancang. Kami anak-anak dari tempat yang sangat berjauhan tapi tetap dekat dalam dekapan bapak. Baik Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam tampaknya memang punya cerita yang sama sepertiku. Dibiayai sekolahnya, diarahkan ke sekolah guru dan sekarang kami mengajar. Hanya satu yang berbeda, bapak melakukan semua itu karena tidak punya anak, sedang kami rata-rata punya anak buah cinta kami sendiri.
***
“Aku tak pernah mengira, bapakmu seperti itu.” komentar ibu ketika kami bicara di ruang tengah dalam suasana haru. “Yang aku tahu, Ganang ini yang kami jadikan anak angkat, agar sekolahnya tetap lancar.”
Dulu pernah aku bicara dengan bapak, kenapa tidak mengadopsi seorang anak sejak bayi. Saat itu bapak hanya tersenyum.
“Kami sepakat untuk tidak mengadopsi anak. Kami merasa yakin, ketika anak itu dewasa tetap bukan muhrim. Kalau kami mengambil anak perempuan, maka ketika ia dewasa akan jadi masalah denganku. Demikian pula sebaliknya, kalau laki-laki, masalah itu muncul pada ibumu. Kami tidak mau hanya gara-gara sayang pada anak, melupakan sesuatu yang menurut agama tidak benar.”
“Kata orang mengambil anak itu untuk pancingan saja, Pak ! Seperti yang dilakukan Haji Sulaeman. Setelah mengadopsi anak, selang setahun ceu Haji hamil.” kataku berdalih.
“Kamu yakin itu, Nang ?”
“Ya, pak, paling tidak itu terjadi pada Haji Sulaeman, kang Satori, dan mungkin banyak lagi, Pak !”
“Aku justru khawatir. Taroh kata sekarang kita ngambil anak, dibesarkan dengan sayang, lalu ibumu itu mengandung, lahir seorang anak dari darah daging bapak sendiri. Apa yakin akan tetap menyayangi anak hasil adopsi itu ?”
Dulu aku tak bisa komentar. Sekarang baru paham kenapa bapak tidak mengadopsi anak, melainkan senang membiayai sekolah anak yang tidak mampu sepertiku dulu. Dengan begitu tidak ada hubungan istimewa selain saling tolong-menolong. Dengan cara itu bapak telah menyambungkan tangannya dengan tangan malaikat.
Dengan kang Hamid kami berseloroh. Kalau kita sekarang punya anak asuh enam orang, artinya bapak telah punya 42 orang anak. Andai saja dari anak-anak asuh kita itu, mereka punya lima anak asuh lagi kelak, sudah berapa sesungguhnya anak bapak.
“Mustahil kalau itu lahir dari rahim ibu.” kataku.
“Ya !” kang Hamid mengangguk. “Bapak memang luar biasa. Ia telah membuat anak dari seluruh pulau.”
Mendengar obrolan itu ibu tersenyum.
“Bapak tidak sehebat yang kalian kira.” kata ibu. “Jangan membesar-besarkan bapak, supaya tidak terlalu berat meninggalkan ibu sendiri dan dipaksa untuk berbuat seperti bapak. Kalaupun bapak telah berbuat baik, semua itu karena kami merasa akan sungguh malang bila kami mengulurkan sebuah tangan kosong kepada orang lain.”
Ibu masih tetap wirid dan tidak saling bicara lagi. Semua asyik dengan pikiran masing-masing. Aku terus berdecak kagum. Bapak punya anak di segala penjuru. Saat itulah aku kembali mencium bau kayu jati, semerbak mawar dan mendengar gemericik air lebih dari apa yang pernah aku rasakan selama ini.
***
Peduli Pada Sesama
Tangis dan kekesalan Zahra pada Ali, tak mampu mengembalikan sepatunya yang hilang. Meminta sepatu baru, mustahil dilakukan. Ali tak ingin membebani pikiran ayahnya dengan kesulitan baru. Maka, hilangnya sepatu Zahra sengaja ditutup-tutupi dan menjadi rahasia mereka berdua. Begitu pun saat harus bergantian sepatu, keduanya tetap bungkam.
Bergantian memakai satusepatu, bukan tanpa resiko. Ketika sepatunya kehujanan, dengan berlinang airmata, Zahra tetap memakainya. Ali pun jadi kerap kesiangan. Satu dua kali, bisa menerobos masuk. Lama kelamaan ketahuan juga. Saat diancam tidak boleh masuk kelas sebelum bisa menjelaskan kenapa selalu kesiangan, Ali tetap bungkam. Lebih baik makan tanah daripada harus berkeluh kesah, begitu ia selalu dididik ayahnya.
Ketika Ali bisa sabar, tidak demikian dengan Zahra. Anak cantik ini selalu merengek minta sepatunya yang hilang dikembalikan. Inilah yang membuat Ali sedih sekaligus bingung. Harapan muncul ketika ada lomba maraton tingkat sekolah dasar dengan hadiah ketiga :Sepatu Baru ! Amboi, angan Ali melambung. Dengan hadiah itu, ia bisa menebus rasa bersalahnya dan tak perlu bingung bagaimana mengganti sepatu Zahra. Ketika menjelang masuk finish, Ali berada di urutan paling depan. Demi meraih hadiah ketiga, justru anak kurus ini memperlambat larinya. Barulah setelah terjatuh dan disusul anak lain, sekuat tenaga ia berlari dan berhasil meraih juara pertama. Gembirakah Ali ? Tidak. Ia malah menangis dan menyesal karena gagal mempersembahkan sepatu baru buat Zahra.
Kisah yang sangat menyentuh, penuh teladan dan pelajaran tentang Ali dan Zahra. Di tengah kemiskinan yang mendera, kasih sayang begitu mengkristal. Di tengah keterbatasan dana, prestasi tetap digenggam. Diantara kepapaan : keduanya punya semangat menyayangi
sesama, sesuatu yang mulai langka ada di tengah kita. Inilah sebuah kisah, contoh buat kita renungkan.Sebuah novel terbitan Edelweis [Mizan grup], Jakarta, 2008

